Yogyakarta, Humas LIPI.  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan komitmen dalam upaya pemanfaatan bahan alam untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat melalui Balai Pengembangan Teknologi Bahan Alam (BPTBA) LIPI. Keberadaan BPTBA LIPI yang berlokasi di Gading, Playen, Gunungkidup, Yogyakarta telah berhasil mengembangkan teknologi pengalengan untuk mengoptimalkan potensi bahan alam lokal. “BPTBA telah berhasil membawa teknologi lebih dekat dengan masyarakat dengan mengoptimalkan bahan alam lokal Yogyakarta sebagai bahan pangan ,” tutur Deputi Jasa Ilmiah LIPI, Mego Pinandito, dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI di BPTBA LIPI.

BPTBA LIPI mengembangkan teknologi pengalengan makanan tradisional dengan proses sterilisasi dan pengawetan tanpa menggunakan bahan pengawet sehingga aman dikonsumsi. Mego mengungkapkandengan inovasi ini, makanan tradisional memiliki masa konsumsi lebih panjang sehingga semakin membuka potensi industri pangan tradisional Indonesia serta menjadi alternatif ketersediaan pangan Indonesia. “Dengan teknologi pengalengan ini, potensi bahan alam kita dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Fokusnya adalah, bagaimana teknologi dan hasilnya dapat dinikmasti masyarakat.” terangnya. Saat ini produk makanan tradisional yang telah dikalengkan oleh BPTBA LIPI diantaranya adalah gudeg, mangut lele, sayur lombok ijo, dan tempe kari.

Selain produk unggulan pengalengan, BPTBA LIPI bersinergi bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) “Kumpul Makaryo” di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunungkidul telah mengembangkan dan membantu budidaya kakao hingga pengolahan pasca panen. Hasil nyata sinergi tersebut adalah sarana dan prasarana pengolahan cokelat berupa peralatan dan pembangunan rumah produksi atau showroom yang diberi nama Griya Coklat Nglanggeran. GriyaCoklat Nlanggeran saat ini menyediakan sejumlah varian, di antaranya Cocomix Original, Cocomix Kopi, Cocomix Susu Kambing Etawa, Cocomix Ice, Cookies Kombinasi Tepung Mocaf dan Cokelat, pisang salut, bubuk cokelat, dan cokelat batang. “Griya cokelat telah mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah dan Sri Sultan Hamengku Buwono. Harapannya Griya Cokelat dapat menjadi centra cokelat di Indonesia dan masyarakat dapat benar-benar merasakan manfaatnya terutama dari segi ekonomi,” jelas Mego.

Bambang Wuryanto, Ketua Tim Kunjungan Komisi VII DPR RI ke BPTBA LIPI menyampaikan agar orientasi LIPI searah dengan tujuan PRN dan kepentingan masyarakat. “Lembaga riset ini memang dibentuk untuk meningkatkan perekonomian rakyat, melalui pengembangan teknologi dan riset, tertutama dalam hal pangan,” ucap Bambang.

Mewakili Bupati Gunung Kidul, Himawan Wahyudi selaku Wakil Bupati Gunung Kidul menyampaikan harapannya agar kunjungan komisi VII DPR RI dapat menghasilkan program konkrit terkait dukungan terhadap pengembangan teknologi dan riset. “Hasil dari kunjungan ini semoga ada dukungan konkrit untuk pengembangan teknologi dan riset sebagai upaya pengentasan kemiskinan, karena hasil teknologi BPTBA telah berperan signifikan dalam perekonomian masyarakat sekitar,” ujar Himawan.

 

(Sumber : lipi.go.id)